Kecuali produk madu alam, masyarakat di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, khususnya warga Kabupaten Sumbawa dan Kabupaten Sumbawa Barat (Samawa) juga punya produk obat-obatan tradisional berjuluk Minyak Samawa. Ini minyak multikhasiat: menyembuhkan penyakit luar dan dalam seperti ginjal, netralkan kadar gula darah, luka bakar dan memar, patah tulang, keseleo, nyeri otot, gatal-gatal, perut kembung, insomnia ringan, migrain, hingga meningkatkan ‘kejantanan’ pria alias obat kuat.
Minyak ini bukan minyak pabrikan, melainkan dibuat secara tradisional dan turun-temurun, serta dijadikan media pengobatan selama berabad-abad. Terbuat dari ramuan bahan herbal seperti rempah-rempah alami, kulit dan akar kayu, kelapa, telur itik dan lainnya. Sebagai media pengobatan, minyak samawa ini dioleskan, dipijat dan dibalurkan pada bagian tubuh yang sakit, atau bisa diminum. Dalam sejumlah penelitian disebutkan, minyak samawa punya kandungan nutrisi: vitamin E, Asam Lemak, Fitosterol dan oksidan.
Ketimbang sejumlah khasiat kandungan nutrisinya, yang berguna untuk menjaga kesehatan sel-sel, membantu meningkatkan aliran darah, memacu produk hormon, menurunkan kadar kolesterol, melindungi tubuh dari kerusakan akibat radikal, selain meningkatkan produksi testosteron dan kadar hormon yang dapat membantu masalah vitalitas pria, apalagi ditambah embel bisa memperpanjang ‘durasi’, inilah agaknya jadi daya tarik para kaum Adam memburu minyak samawa.
Lepas dari itu, keberadaan minyak samawa menunjukkan kemampuan, kreativitas dan strategi masyarakat tradisional masa lalu di tengah terbatasnya obat kimia. Dalam keterbasan itu, para leluhur mencari dan menemukan bahan dan ramuan untuk pengobatan alternatif dengan memanfaatkan sumber daya alam. Mereka mencoba, belajar dan menerapkan berulang kali secara langsung, sampai mendapatkan formula racikannya yang pas dan nyata-nyata khasiatnya, jadilah bahan alami itu sebagai media pengobatan.
Luar biasanya para leluhur Tau Samawa, meraciknya dan membuat obat alami dengan teknologi sederhanam seperti pembuatan minyak samawa atau Malala di Kabupaten Sumbawa dan Sumbawa Barat. Bahan-bahan obat itu berada di sekitar kampung dan hutan. Tukang raciknya adalah Sandro yang mencari sendiri bahan mentahnya. Sebagai produk herbal yang mampu meningkatkan kadar testosteron, energi, dan ketahanan terhadap beban aktivitas fisik. Kemujaraban obat herbal bagi masyarakat setempat, Penulis pernah menjajalnya, tatkala mengalami sakit perut. Karena perut bermasalah, terpaksa mondar-mandir ‘BAB’ dari-ke kamar mandi. Ketika mulai bosan buang ‘ampas perut’, nenek saya menyarankan minum getah pohon jarak. Ajaibnya bro, satu-dua kali menenggak getah jarak dicampur air itu, sakit perut pun hilang seketika.
Tangan telanjang
Tetapi upaya saya itu sebatas emergensi bagi internal rumah tangga. Lain lagi dengan Malala yang tidak sembarangan dibikin. Ada tahapan-tahapannya: mencari bahan dan meramunya untuk di-lala. Waktu pembuatannya pada bulan tertentu, Bulan Bao, bertepatan 1 Muharam. Pembuatannya itu ditunggu-tunggu, sebab masyarakat bisa menyaksikan prosesnya, juga ingin mendapatkan minyak ini alakadarnya buat keperluan pribadi. Yang jadi ‘bintang’ dalam prosesing minyak ini adalah Sandro. Ia berperan meracik dan meramu bahan-bahan minyak. Keterampilan meramu para Sandro ini didapat dari gurunya yang juga Sandro. Tentu ada doa dan jampi-jampi, agar proses pembuatan bahan ramuan berjalan lancar. Bahan ramuan itu diletakkan dalam wadah kuali besar, di atas tungku untuk direbus. Terkadang saat bahan ramuan itu mendidih, Sandro mengaduk-aduknya dengan tangan telanjang, tidak ragu kalau kulit tangannya bakal melepuh tersengat hawa panas ramuan.
Tradisi Malala dilakukan warga pada hampir semua desa/ kecamatan di Sumbawa dan Sumbawa Barat. Mereka juga terlibat langsung pengadaan bahan baku seperti kelapa. Sebagai imbalannya, mereka kebagian minyak samawa yang sudah ‘jadi’ atau selesai direbus. Jumlahnya sebotol ukuran kecil atau medium. Proses pengerjaan bahan baku, membantu meracik, meletakkan dan mengaduk di atas tungku sampai minyak selesai direbus , dominasi kalangan pria. Menurut Aries Zulkarnain, Pegiat kebudayaan di Sumbawa Besar, Ibu Kota Kabupaten Sumbawa, dalam bukunya ‘Tradisi dan Adat Istiadat Samawa’’, proses pembuatan minyak sumbawa ada ‘pantangan’nya. Itu tadi, kaum perempuan tidak diizinkan karena santan yang sudah dicampur ramuan khusus bisa rusak, minyak tidak menghasilkan seperti yang diinginkan.
Bakal ramuan & Nama
Di Kabupaten Sumbawa terdapat 24 Kecamatan, yang sebagian kampungnya berada di sekitar kawasan hutan. Karenanya bahan baku yang digunakan beragam, dan Sandro relatif gampang mendapatkan bahan baku, sakligus memberi nama minyak hasil racikannya. Minyak Sumbawa produk Kecamatan Empang, racikan Sandro Ahmad Mangan, yang dibantu asistennya H Jumadi, diberi nama Rat Bebat. Bahan baku ramuan Rat Bebat berupa kayu bebat sakel, piling saga, sulaiman dan Santigi, akar Kayu rangala polak, kebo karong dan akar katuka, sarang burung, sarese batu, telur itik, kelapa, madu alam, rempah genap dan lainnya lainnya. Minyak Rat Bebat berkhasiat: meningkatkan stamina, mengobati sakit pinggang, pegal linu, luka dalam, ambeien dan obat ibu pascamelahirkan, nare, lelah, lesu dan lainnya.
Sedang minyak samawa yang dibuat di Kecamatan Sumbawa (bagian tengah Sumbawa atau Samawa datu) yaitu minyak ‘’Coba Kadu’’. Pembuatnya adalah Muhammad Tayeb Darimi, dibantu oleh Muhammad. Bahan bakunya di antaranya kelapa, jahe, merica, sarese batu, cabai ylat, kayu sarneng, kayu jelatang tikis, akar songkar, kayu penyit, akar pansa, kayu benteng, kayu No Mate dan lainnya. ‘Coba Kadu’ dipercaya mujarab menghilangkan rasa capek, pegal linu, lesu, badan meriang dan menambah setamina.
Sementara Sandro H Jamaludin Hasyim bersama asistennya Rusdianto, di Kecamatan Lunyuk, memberi nama produknya ‘Sambung Olat Legani’. Minyak ini berbahan baku akar tampesal, akar kasaga loka, akar sambung nyawa, akar uler bage, akar jelatang tikes, sarang burung wallet, lumet Tampar Urung dan lainnya. Khasiat ‘Sambung Olat Legini antara lain meningkatkan setamina, mengobati keseleo, sakit perut, gatal-gatal, rematik, kolestrol/asam urat dan ambeien.
Di Kecamatan Alas minyak samawa ‘’Ai Agal Sabongkas Reban’’ yang dibuat oleh Sandro Syamsuddin bersama Burhanuddin. Bahan ramuannya berupa kelapa, jahe, sang, akar bage lontak Ola, akar Panan, akar nyir, kaneka kayu dan pamantak galuning. Minyak ini manjur buat menambah stamina, mengobati keseleo, sakit persedian, rasa ngilu dan sakit pinggang. Ada pun untuk ‘obat dalam’ macam sakit ginjal dan kencing manis, ituah minyak samawa bikinan Sandro Husain Aji dari Kecamaten Lape.
Kalau ‘tempo doeloe’ pembuatan minyak samawa dilakukan warga tiap kampung. Belakangan Pemerintah Kabupaten Sumbawa memfasilitasi, dengan menggelar festival Malala saban tahun, seperti 7 Juli 2024, di halaman Masjid Jami Nurul Huda di Sumbawa Besar bertepatan 1 Muharram 1446 H. Acara ini mengundang perhatian masyarakat untuk memeriahkan tahun baru Hijriah. Khalayak tentu ingin menjawab rasa penasaran. Kemudian menyaksikan keseruan para Sandro unjuk kebolehan mengaduk-aduk ramuan mendidih dalam kuali itu dengan tangan telanjang,, sekaligus mengetahui para pewaris melestarikan tinggalan budaya leluhurnya. Atau mungkin ada di antara pengunjung punya pikiran ‘genit’, berharap kebagian tetes-tetes minyak samawa khususnya yang punya embel-embel meningkatkan vitalitas pria itu. Siapa tahu…. ???!!!. (rul)